Free Essay

Indo China

In: Business and Management

Submitted By derryrul
Words 4276
Pages 18
China dengan Indonesia

2005
Hubungan dagang Indonesia-Cina memang terus meningkat, terutama setelah ditandatanganinya kerjasama Kemitraan Strategis pada tahun 2005. Kunjungan resmi pertama Perdana Menteri Jiabao ini mengukuhkan hal itu.

2010
Pemerintah Indonesia dan China menyepakati empat poin kerja sama ekonomi, yakni pembiayaan, perdagangan, investasi, serta pembangunan infrastruktur. Kesepakatan kedua negara dalam kerja sama itu dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani perwakilan kedua negara dan disaksikan oleh Wakil Presiden Boediono di Beijing,Rabu. Empat nota kesepahaman yang ditandatangani tersebut adalah kesepakatan memperluas dan mempererat kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara, kesepakatan pembiayaan bagi perdagangan dan investasi antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Bank Exim Indonesia dengan Bank Exim China. Pada kesepakatan itu ditandatangani pula kesepakatan kedua negara untuk meningkatan kerja sama pembangunan infrastruktur, serta penandatanganan pembangunan proyek PLTU Celukan Bawang, Bali Utara berkapasitas 3x1500 MW. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) mendapat fasilitas pendanaan sebesar 350 juta dolar AS dari Industrial & Commercial Bank of China untuk meningkatkan pembiayaan perdagangan dan investasi di dalam negeri. "Lembaga Pembiayaan Ekpor Indonesia (LPEI) mendapat fasilitas 350 juta dolar AS dari China Exim bank untuk meningkatkan pembiayaan perdagangan dan investasi," katanya. Mari mengatakan, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) bahkan sudah menandatangani kesepakatan dengan LPEI, bertujuan agar Indonesia Eximbank dapat membantu industri sepatu dan tekstil di Indonesia dalam hal pembiayaan dan investasi. Menurut dia, kalangan industri tertaik untuk mendapatkan pembiayaan tersebut mengingat LPEI berkenan mengucurkan dananya dengan bunga terjangkau disertai jaminan risiko untuk para eksportir baru. "LPEI membantu pembiayaan dengan bunga terjangkau disertai jaminan risiko untuk eksportir baru atau memiliki rekam jejak baik atau untuk hal-hal baru, misalnya kerja sama dengan China untuk pembiayaan mesin baru. Exim bank `kan intinya membiayai ekspor dari barang dia," ujarnya.
2012
http://www.tempo.co/read/news/2012/11/19/087442617/Cina-Perkuat-Kerja-Sama-Ekonomi-dengan-Indonesia

KERJASAMA EKONOMI INDONESIA – CHINA DALAM BIDANG PERDAGANGAN INTERNASIONAL (STUDI KASUS CAFTA : CHINA-ASEAN FREE TRADE AREA)
Oleh : Mohmad Iqbal Hubungan antara Indonesia dan China adalah satu hal yang amat penting, baik bagi Indonesia maupun untuk China sendiri. Hubungan Bilateral Indonesia-China yang pernah membeku sepanjang pemerintahan Orde Baru, kini makin membaik, dan bahkan China merupakan salah satu mitra yang penting bagi Indonesia. Secara geopolitik, posisi Indonesia sangat strategis di kawasan Asia Pasifik dan Selat Malaka. Sedangkan secara ekonomi, Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumberdaya alam dan mineral, baik di darat maupun di laut. Kekayaan alam Indonesia yang sangat luar biasa ini jelas sangat menggoda negara-negara industri yang sedang maju saat ini seperti China untuk menguasainya, langsung ataupun tidak langsung. Disamping itu, dengan jumlah penduduk lebih dari 243 juta jiwa, Indonesia adalah pasar potensial bagi produk-produk negara-negara industri. Sedangkan China sendiri adalah dulunya merupakan negara berkembang yang dimana pemerintahnya masih menerapkan sistem tertutup dan belum terbuka dengan negara lainnya, akan tetapi kini sudah berubah menjadi negara maju yang perekonomiannya terus berkembang pesat bahkan sudah mengalahkan perkembangan negara-negara diu kawasan Eropa, dan China sekarang adalah negara yang sangat terbuka dengan investasi asing semenjak liberalisasi ekonomi yang dibawa pada tahun 1979 oleh Den Xioping. Dengan menggunakan sistem open door policy atau membuka secara luas investasi asing yang akan masuk ke China, membuat negara ini semakin disegani dalam pertumbuhan ekonominya dan investor asing yang masuk ke China juga semakin banyak, ini dikarenakan iklim investasi di China sangat mendukung, dan para investor pun dipermudah birokrasinya oleh pemerintah setempat. Kemudian juga pertumbuhan ekonmi China tidak pernah lepas dari angka dua digit, menjadi alasan utama investor asing berbondong-bondong menginvestasikan properti atau sahamnya di China. Cadangan devisa China pada saat ini juga sudah mencapai 3 miliar USD mengalahkan Amerika Serikat, sehingga wajar dilihat dari faktanya yang ada pada saat ini bahwa China sekarang ini sudah menjadi superpowerbaru yang bisa menyaingi kekuatan dari Amerika Serikat terutama dalam hal ekonominya. Hubungan bilateral antara China dan Indonesia terutama dalam bidang ekonomi saat ini terus meningkat. Hal ini tercermin dari meningkatnya nilai perdagangan kedua negara, yang pada tahun 2008 mencapai US$ 31 miliar. Dalam lima tahun ke depan, Presiden Republik Indonesia (RI) Bapak Susilo B. Yudhoyono memperkirakan nilai perdagangan Indonesia-China akan mencapai US$ 50 miliar[1]. Peningkatan hubungan bilateral tersebut, diungkapkan oleh Dubes China, tidak terlepas dari terjalinnya Free Trade Asean-China. Selain itu, China menganggap Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi sangat besar. Namun untuk merealisasikan potensi itu diperlukan penghapusan beberapa hambatan, baik dari pihak China maupun dari pihak Indonesia. Indonesia berharap lambannya realisasi dana pinjaman China agar bisa cepat terealisasikan sehingga bisa dioptimalkan dengan baik oleh pemerintah Indonesia. Sebaliknya, dunia usaha China yang ingin berinvestasi di Indonesia juga memerlukan jaminan dari pemerintah RI untuk menghadapi risiko perubahan kebijakan pemerintah daerah[2]. Tampilnya Cina sebagai kekuatan besar di dunia, dianggap bisa membantu Indonesia mengimbangi pengaruh Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang di kawasan Asia Pasifik. Bagi Indonesia yang menginginkan kondisi stabil di kawasan, bermitra dengan China menjadi sesuatu yang tak terelakan sekaligus langkah strategis bagi kepentingan nasional.
Salah satu cara untuk mempererat hubungan satu negara dengan negara lainnya dalah dengan melakukan perdagangan internasional. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian setiap negara di dunia. Dengan perdagangan internasional, perekonomian akan saling terjalin dan tercipta suatu hubungan ekonomi yang saling mempengaruhi suatu negara dengan negara lain serta lalu lintas barang dan jasa akan membentuk perdagangan antar bangsa. Perdagangan internasional pada saat ini secara tidak langsung mendorong terjadinya globalisasi, hal ini ditandai dengan semakin berkembangnya sistem inovasi teknologi informasi, perdagangan, reformasi politik, transnasionalisasi sistem keuangan, dan investasi. Dan ini bisa menjadi modal yang penting bagi suatu negara untuk menarik investor masuk ke dalam negerinya untuk menanam investasi di negarnya. Apalagi didukung dengan situasi politik yang kondusif dan lingkungan bisnis yang kompetitif di dalam negara tersebut, maka bukan tidak mungkin perkembangan ekonomi negara tersebut akan tumbuh semakin cepat. Seperti halnya hubungan antara Indonesia dan China, hubungan ini sangat lekat dengan adanya perdagangan internasional, dan salah satu perdagangan diantara kedua negara ini yang masih baru dan juga masih berjalan sampai saat ini adalah adanya perdagangan bebas CAFTA (China Asean Free Trade Area). Sejak CAFTA diterapkan, jumlah perusahaan China yang menanamkan investasi di Indonesia juga bertambah. Hingga akhir 2010 terdapat lebih dari seribu perusahaan China yang tercatat di Indonesia, dengan investasi langsung mencapai 2,9 miliar dollar AS atau naik 31,7 persen dari tahun sebelumnya[3]. Dan juga produk-produk China yang masuk ke China juga menjadi sangat banyak dan bahkan membanjiri pasar lokal Indonesia. Dengan harganya yang relatif murah dan juga dari segi kualitas juga tidak kalah berbeda dengan barang-barang bermerek lainnya, membuat produk China diserbu oleh konsumen Indonesia yang rata-rata dalam memilih suatu produk dilihat dari harganya yang terjangkau terlebih dahulu.
Berbagai produk nasional yang terancam akan membanjirnya produk China antara lain dalam bidang : tekstil dan produk tekstil, alas kaki, elektronika, ban, furnitur, industri permesinan, mainan anak-anak, serta otomotif[4]. Dan akan masih banyak lagi produk-produk dari China yang akan membanjiri pasar Indonesia juga pemerintah tidak segera mengantisipasinya, dikarenakan Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial yang berada di kawasan Asia Tenggara, masyarakat Indonesia sudah terbiasa menjadi masyarakat yang konsumtif, yang hanya memikirkan untuk memilih barang semurah mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sedangkan bagi Indonesia sendiri, Indonesia hanya bisa mengirim bahan-bahan mentah seperti hasil bumi untuk dijadikan komuditas ekspor ke China dalam rangka CAFTA ini. Dimana harganya pun masih relatif murah sehingga pendapatan untuk negara juga tidak terlaru besar. Untuk ekspor ke China sendiri yang paling dominan adalah ekspor biji kakao. Indonesia memang dikenal sebagai penghasil biji kakao yang baik dan juga berkualitas tinggi, tidak heran kalau sector inilah yang menjadi andalan Indonesia untuk ekspor ke China. Akan tetapi ekspor ini bukan tanpa halangan, karena banyak negara yang menjadi pesaing dalam ekspor produk ini, seperti misalnya Italia dan juga Malaysia. Indonesia sendiri kini berada dalam urutan kelima dalam pemasok biji kakao ke negara China dengan nilai USD 25,12 juta (9,63 %) pada tahun 2009[5]. Dengan banyaknya saingan yang ada maka, ini perlu dijadikan perhatian yang serius bagi pemerintah Indonesia yang dimana Indonesia sebagai negara berkembang harus bisa untuk mengolah atau memilih ekspor dengan pendapatan yang cukup besar, jangan hanya bisa mengekspor barang mentah saja, atau hasil bumi saja, paling tidak Indonesia harus sudah bisa mengekspor barang setengah jadi bahkan barang yang sudah jadi, sehingga pendapatan untuk negara juga semakin bertambah besar. Karena selama ini, ekspor Indonesia didominasi produk mentah dan bahan baku seperti biji kakao, kemudian minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak mentah. Sementara itu, impor dari China sudah berbentuk barang setengah jadi dan barang yang sudah jadi terutama dalam bidang tekhnologi. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya, A Prasetyantoko menambahkan, ada beberapa penyelamatan jangka pendek terkait pemberlakuan CAFTA itu, yakni perlindungan produk dalam negeri (safeguard), program antidumping maupun kewajiban mencantumkan produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurut dia, CAFTA dalam jangka menengah memberi kesempatan untuk memacu daya saing perekonomian domestik. Dalam jangka menengah, perlu memanfaatkan peluang dengan mengidentifikasi sektor yang komplemen terhadap produk China, mendorong peluang non perdagangan seperti investasi langsung untuk kapasitas produksi dan memperbaiki logistik[6]. Pemerintah tampaknya tidak perlu renegosiasi perjanjian perdagangan ASEAN-China, karena lebih menyulitkan dan membutuhkan proses lama. Karena proses negosisasi ini sendiri bukan hanya Indonesia saja yang terlibat, akan tetapi Negara-negara ASEAN juga harus ikut terlibat, karena perdagan bebas ini melingkupi keseluruhan negara-negara Asia Tenggara. Menurut Anggito Abimanyu seorang pengamat ekonomi Perjanjian CAFTA yang disepakati menteri perdagangan ASEAN-China, ada tiga. Pertama, CAFTA tetap dilanjutkan dan tidak ada rencana notifikasi karena kerugian akibat kecurangan perdagangan (unfair trade). Kedua, bila suatu negara mengalami defisit, negara surplus harus mendorong impor. Ketiga, pembentukan tim pengkajian terhadap perdagangan bilateral[7]. Bila memang ada kerugian akibat perdagangan bebas, maka membutuhkan biaya mahal dan proses panjang untuk membuktikan hal tersebut. Selain itu, kesepakatan bukan hanya dengan China tapi juga dengan negara ASEAN.

Perkembangan Kerjasama Bilateral Ekonomi Indonesia Dan China Dari Tahun (1967 -2006) dalam lingkup pengaruh ACFTA di Kawasan ASEAN
INDAH RETNONINGSIH
( 206000180 )

A. Latar Belakang Hubungan Bilateral Ekonomi Indonesia dan China (1967-2006 ).

Indonesia dan China telah melakukan hubungan diplomatis semenjak tanggal 13 April 1950. Akan tetapi, hubungan diplomatis bilateral kedua negara tersebut sempat terhenti pada tahun 1967, setelah merebaknya isu kudeta komunisme di Indonesia. Pada bulan Desember 1989, atau selang waktu dekade setelah adanya perbaikan hubungan bilateral diantara Indonesia dan China, Indonesia dan china sepakat untuk membahas berbagai hal mengenai normalisasi hubungan bilateral kedua negara.
Selanjutnya, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas, mengadakan kunjungan ke China tahun 1990, dan setelah kunjungan tersebut, kedua belah pihak Negara, Indonesia dan China, menandatangani Kesepakatan Penyelesaian Kewajiban Hutang Indonesia ke China, yakni, Agreement on the Settlement of Indonesia’s Debt Obligation to china, dan Komunike Pengadaan kembali Hubungan Diplomatis antara RRC dan Republik Indonesia ( RI ), ( Comminique on the Resumption of Diplomatic Relation between people’s Republic of China and the Republic of Indonesia ).
Meskipun demikian hubungan China dan Indonesia masih mengalami kerenggangan, bahkan hingga tahun-tahun terakhir sebelum pemerintahan Soeharto, mengundurkan diri dari kursi jabatan pemerintahan Republik Indonesia. Keadaan ini, dikarenakan adanya faktor timbulnya rasa curiga dari pohak militer Indonesia, terhadap maksud-maksud tertentu yang dimiliki oleh China ( Haacke 2005 : 136 ). Oleh karena faktor itulah, Indonesia pernah memberikan dukungannya secara penuh, kepada keterlibatan Amerika Serikat di ARF, dan memberikan dukungan komitmenya dalam berbagai kesepakatan-kesepakatan dengn pihak Australia ( Leifer 1999 ). Akan tetapi, ibukota Jakarta, seperti halnya dengan negara-negara Maritim Asia Tenggara lainnya, dilihat oleh Beijing sangat penting, dilihat dari segi Politik, Ekonomi, dan wilayah yang Strategis. Bagi para pembuat kebijakan di Beijing, Jakarta tidak hanya memiliki faktor kepemimpinan dalam ASEAN, tetapi, dikarenakan perdagangan China yang semakin meningkat dengan dunia, memilki posisi geografis yang sangat strategis, yang merupakan elemen penting bagi kepentingan ekonomi China.
Hubungan anatara kedua negara semakin membaik, selama masa krisis ekonomi, khususnya setelah adanya kunjungan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, ke China pada bulan Desember 1999. Pada waktu itu, kedua pihak sepakat bahwa Indonesia dan China harus meningkatkan kontak antar anggota masyarakat, yang digunakan untuk memperbaiki hubungan di antara kedua negara Indonesia dan China.
Indonesia sebenarnya menandatangani kesepakatan perdagangan Bilateral dengan China pertama kali pada tahun 1953, dengan nilai awal perdagangan mencapai kisaran AS$ 7,4 juta, dan secara konsisten meningkat hingga AS$ 129 juta pada jangka waktu lima tahun itu, ( Hudiono 2006 ). Setelah bertahun-tahun terhentinya hubungan diplomatis antara kedua negara, hubungan Ekonomi Indonesia dan China mulai tumbuh kembali, khusunya setelah penandatangann nota kesepahaman, (MoU) Memorandum of Understanding , untuk pembentukan hubungan perdagangan anatar kedua negara oleh kamar dagang dan Industri Indonesia ( KADIN ) dan Dewan Promosi Perdagangan International China ( CCPIT ) China Council for the Promotion of Intrenational Trade.
Meskipun demikian, setelah adanya masa normalisasi saja perdagangan antara kedua negara mulai meningkat secara tajam, meskipun dalam masa volume yang relatif kecil. Satu kajian yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia, Atje dan Gaduh ( 1999: 9 ), mengenai hubungan Ekonomi Indonesia dan China, menujukkan bahwa antara awal tahun 1990-an hingga puncak krisis ekonomi, ekspor minyak dan gas ( migas ), dan non-migas Indonesia ke China meningkat dan sekitar AS$ 580 juta menjadi AS$ 1.320 juta, sedangkan impor dan China ke Indonesia meningkat dari AS$ 800 juta pada tahun 1991 menjadi AS$ 1.270 juta pada tahun 1997.
Hubungan ekonomi antara Indonesia dan China juga semakin membaik bersamaan dengan milenium baru. China khususnya, mampu menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik ( BPS ), anatara tahun 2003 hingga 2004, atau masa setelah pelaksanaan tahap awal dari ACFTA, atau EHP, pada bulan Januari 2004 dan tidak lama setelah itu, ekspor Indonesia ke China meningkat sebanyak 232, 20 persen, sedangkan impornya dari China meningkat hanya sebesar 38,67 persen saja.
Secara keseluruhan total volume perdagangan antara Indonesia dan China pada tahun 2004, terhitung menjadi AS$ 13,47 milyar, atau peningkatan sebesar 31,8 persen dari tahun sebelumnya, dan hampir sama dengan volume perdagangan Indonesia dan AS, yang terhitung mencapai AS$ 13,5 milyar (People’s Daily Online 2005). Sementara itu, dari sisi pandang China, Indonesia kini masuk pada peringkat ke-17, sebagai negara penerima ekspor negara itu, dengan nilai sebesar AS$ 3,59 milyar, atau peningkatan sekitar 1,01 persen dari total ekspor China ke seluruh dunia. Umumnya perdagangan bilateral semakin bertambah dengan cepat hingga mencapai AS$ 10 milyar, termasuk perdagangan melalui Hong Kong, sedangkan penanaman modal China di Indonesia kini mencapai total komulatif sebesar AS$ 282 milyar.
Indonesia dan China melihat hubungan satu dengan lainnya sebagai mitra ekonomi yang potensial ( Atje dan Gaduh 1999: 8-9 ). Dari kacamata para pembuat kebijakan Indonesia, populasi penduduk China yang mencapai 1,2 milyar jiwa merupakan kesempatan ekonomi yang perlu digali. Selain itu, para pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi Indonesia juga semakin prihatin dengan masuknya China ke dalam WTO, pada bulan November 2001, khususnya mengenai peningkatan daya saing China di pasar dunia yang dapat menjadi pesaing bagi ekspor Indonesia.
Meskipun ada peningkatan angka perdagangan, perdagangan Indonesia dan China masih relatif kecil. Hal ini tidak hanya dikarenakan kedua negara merupakan negara berkembang dan memilki tingkat pembangunan yang hampir, ekonomi Indonesia dan China juga tidak memiliki komplementaritas tetapi cenderung bersaing. Para pemimpin China juga memiliki pandangan yang serupa terhadap Indonesia. Populasi Indonesia tidak hanya menjadi faktor pendorong bagi ekspor China, sumber daya alam yang melimpah di negara ini juga dapat memberikan amunisi tambahan bagi China untuk mencapai tujuannya, yakni menjadi kekuatan dunia melalui jalan damai ( Wang Jiang Yu 2005: 53 ).

A. Perkembangan Bilateral Ekonomi Indonesia dan China di Tahun 2006
Berbagai usaha lainnya untuk memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan China juga terjadi ketika presiden China, Hu Jintao, mengunjungi Jakarta pada bulan April 2005. Pada waktu itu, Presiden Hu dan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, sepakat untuk mengeluarkan satu pernyataan bersama mengenai pembentukan Kemitraan Strategis antara Republik Rakyat China dan Republik Indonesia ( Establishing Strategic Partneship between the people Republic of China and the Republic of Indonesia ). Kemitraan Strategis ini berisi satu kesepakatan dari kedua pihak untuk bekerjasama dalam bidang penelitian dan pengembangan teknologi persenjataan. Sealin itu, pada waktu itu China juga memberikan hadiah kepada Indonesia dengan memberikan kesepakatan pinjaman dana AS$ 100 juta dalam bentuk Kredit Pembeli dan Dukungan pengajaran bahasa China. Setelah di tandatangani kesepakatan ini, Presiden Hu, menyatakan bahwa kemitraan strategis ini menunjukkan, bahwa hubungan sino dan Indonesia mulai memasuki tahap pembangunan baru ( International herald Tribune 2005 ). Pada tanggal 27 sampai 30 Juli 2006, presiden Yudhoyono mengadakan kunjungan china. Dalam kunjungannya tersebut, presiden yudhoyono ditemani wakil presidennya, Jusuf kalla, dan ditemani oleh sekelompok pengusaha sukses, dan sekleompok individu mewakili KADIN. Komunitas pengusaha besar Indonesia, sangat antusias menanggapi prosepek diberlakuaknnya kerjasama ekonomi yang lebih dekat dengan negara China.
Seperti dikutip dalam People’s Daily Online tahun 2005, KADIN menunjukkan optimisme bahwa perdagangan Indonesia dengan China diharapkan dapat meningkat dari $15 milyar pada tahun 2005 lalu menjadi $20 milyar pada tahun 2008. Artikel yang sama juga mengutip pernyataan dari Duta Besar China dan Indonesia, Lan Lijun, bahwa perdagangan anatar kedua negara mulai menunjukka peningkatan dengan nilai rata - rata per tahun 18 persen. Setibanya dari konferensi di China, Presiden Yudhoyono, dan beberapa kelompok bisnisnya, berhasil meraup kesepakatan-kesepakatan perdagangan dan penanaman modal sebesar $ 20 milyar, menurut data majalah Forbes tahun 2005. Meskipun kebanyakan pelaku ekonomi yang terlibat dalam kesepakatan– kesepakatan ini meliputi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti perusahaan-perusahaan dari sektor baja, gas, distribusi, telekomunikasi, dll. Akan tetapi berbagai masalah dalam negeri, seperti korupsi, masih akan menjadi ganjalan terrhadap pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan bilateral tersebut.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kedua piihak, atau ASEAN, khususnya Indonesia dan China, yang kedua negara ini mengalami pasang naik turun, dan adanya perubahan politik di timgkat Internasional, menjadikan China mengubah orientasi Kebijakan Luar Negerinya guna mengedepankan ambisi negar itu, untuk menjadi kekuatan ekonomi baru. Jalan yang ditempuh oleh China adalah dengan mengefektifkan kerjasama dengan negara-negara Asia Tenggara melalui ASEAN, selain masuk menjadi anggota WTO, pada bulan Nopember 2001. Hubungann diplomatik Indonesia dan China mulai membaik kembali setelah kunjungan mantan presiden Abdulrrahman Wahib ke China. Inisiatif tersebut kemudia diteruskan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun demikian, membaiknya hubungan diplomatis antara Indonesia dan China tidak sera merta memberikan peluang pasar yang besar bagi Indonesia. Kemampuan akses pasar para pelaku usaha Indonesia ke China, masih patut dipertanyakan, khusunya dikarenakan besarmya berbagai persoalan domestik yang tidak kunjung selesai.
B. Indentifikasi Masalah

1. Bagaimana proses pembangunan kerjasama bilateral Indonesia dan China, dalam hal pengembangan teknologi dan ekonomi pada era tahun 2000?
2. Bagaimana keadaan pasar ekonomi Indonesia, selama 60 tahun ( 1950 – 2010 ), setelah China masuk sebagai ACFTA?

Jawaban
Keadaan perdagangan luar negeri dan kerjasama ekonomi kedua negara China dan Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Setelah pemulihan hubungan diplomatik kedua negara telah sepakat menandatangani kesepakatan militer angkatan udara,melalui mekanisme Perjanjian Perlindungan Investasi. Selain itu juga, kedua negara China dan Indonesia telah menandatangani nota untuk mengadakan kerjasama di bidang pertambangan, kehutanan, pariwisata, perikanan, transportasi, pertanian dan keuangan, dll.
Pada tahun 1990, kedua negara membentuk komite bersama untuk ekonomi perdagangan dan kerjasama teknologi. Dan sampai beberapa tahun kedepan, telah mengadakan lima kali pertemuan untuk membahas kerjasama tersebut. Pada bulan Maret 2002, sebuah forum energi , yang membahas tentang bilateral teknlogi dibuat, dan mengadakan pertemuan pertama kali pada bulan September tahun 2002.
Volume perdagangan bilateral kedua negara ini, telah mengalami peningkatan sangat cepat karena kedua negara, telah sepakat melanjutkan hubungan diplomatik, dengan donor sebanyak $ US 1180000000 di tahun 1990 menjadi $7,464 miliar pada tahun 2000.
Pada tahun 2001, volume perdagangan bilateral, sedikit mempunya hambatan, indeks keuntungan hanya mencapai prosentase Rp 6725000000, akibat mengalami perlambatan ekonomi global. Dan pada tahun pertama di 2002, hasil kerjasama teknologi ini, telah menyumbangkan USD 3,6 milyar, atau meningkat sebesar 5,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Dan pada akhirnya, menjadikan Cina sebagai mitra perdagangan ke-5 dari Indonesia sementara Indonesia, menjadi mitra perdagangan di urutan 17 oleh Cina. Pada bulan Mei 2000, Menteri Luar Negeri Tang Jiaxuan telah mengadakan kunjungan ke Menteri Luar Negeri Indonesia Alwi Shihab menandatangani pernyataan bersama mengenai arah pembangunan hubungan bilateral di masa depan dan sebuah nota kesepahaman tentang menempatkan sebuah komite bersama mengenai hal hubungan kerjasama bilateral.
China telah berjanji, untuk mengadakan kerjasama yang efektif dengan pihak Indonesia, dengan tujuan untuk mendorong kemitraan strategis bilateral kedua negara tersebut. Kesepakatan ini, dari pihak Cina, difasilitator oleh Wu Bangguo dan penasihat politik, Jia Qinglin. Hal tersebut dikemukakan dalam pertemuan terpisah dengan Taufik Kiemas, yang saat itu, beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia.
Sebagai sebuah kesepakatan momentum pengembangan hubungan bilateral, Tiongkok-Indonesia, Wu mengatakan negara telah menikmati dan saling meningkatkan kepercayaan politik, yakni baik bersifar kerja sama yang bermanfaat di berbagai sektor, dan koordinasi yang erat dalam organisasi-organisasi regional dan internasional.
Indonesia dan Cina, merupakan dua negara yang memiliki kepentingan politik di kawasan Asia-Pasifik, kedua negara ini telah menikmati kepentingan bersama yang luas dan saling menguntungkan. Wu menjelaskan, bahwa ia berharap kedua belah pihak akan meningkatkan pertukaran parlemen dan kerja sama untuk mempererat isi dari perjanjian hubungan bilateral.
Jia Qinglin, ketua Nasional Permusyawaratan Politik Rakyat Cina's Konferensi ( CPPCC), mengatakan bahwa Kami siap bekerja sama dengan Indonesia untuk memperluas kerjasama di bidang ekonomi, baik dalam bidang perdagangan , budaya, yang semua itu ditunjukkan untuk memajukan kemitraan strategis kami, dan mencatatnya, bahwa hal ini akan menguntungkan kedua bangsa dan membantu regional dan perdamaian dunia dan pembangunan kedua negara.
Jia berharap, CPPCC, sebagai badan penasehat atas politik, dan MPR Indonesia akan mempertahankan pertukaran bilateral ini dan mau saling mempelajari satu sama lain untuk membantu mempromosikan hubungan antara kedua negara.Indonesia memilki hubungan regional yang bersahabat dan kerja sama dengan pihak Cina, dia berharap bahwa kedua negara akan meningkatkan kerjasama yang pragmatis di dalam pembangunan infrastruktur dan eksploitasi sumber daya alam.
Dia mengatakan, bahwa pihak MPR, sebagai perwakilan sudah siap untuk memperkuat pertukaran dan kerjasama dengan NPC dan CPPCC , untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekononomi yang kompherensif .
Selama 60 tahun hubungan bilateral China dan Indonesia, kedua negara ini telah mengalami pasang surut hubungan bilateral yang dibangun dari dekade tahun 1990’an. Banyaknya perubahan kebijakan yang telah dilakukan oleh China, membuat integrasi china di kawasan asia, menjadi integarsi yang kuat, yang bersaing dengan komoditi ekonomi dari negara-negara ASEAN. Untuk itu, integarsi ini telah menimbulkan tantangan yang kuat bagi negara Indonesia sendiri, yang salah satunya menjadi negara anggota ASEAN.
Tantangan itu dapat terjadi karena intensitas hubungan meningkat, atau adanya perubahan di kawasana yang bersifat fundamental dan cepat. Hubungan dan kerjasama ekonomi telah menangani peningkatan. Perdagangan bilateral sudah melebihi 30 miliar dolar Amerika Serikat, dan akan mengalami peningkatan terus , terutama setelah kawasan Perdagangan bebas ASEAN – Cina ( ACFTA ), berlaku pada awal tahun 2010. Di Indonesia memang banyak yang dipertanyakan mengenai pelaksanaan ACFTA, tetapi pada akhirnya dengan bantuan Pemerintah dan Perusahaan besar, UKM, dapat diharapkan dapat bersaing dengan Indonesia dan China.
Dalam hubungan kerjasama di Asia Timur dan Asia Pasifik perlu secara terus menerus dilakukan tukar menukar pandangan dan kebijakan demi kepentingan kerjasama kawasan yang bersangkutan, misalnya dalam soal dualisme antara ASEAN Plus Three (APT) DAN East Asia Summit (EAS), jelas harus diambil putusan bersama agar bisa mendorong kerja sama regional secara efektif di kawasan. Dalam hubungan ini sebaiknya APT diarahkan untuk kerja sama fungsional karena forum ini lebih kecil dan efektif serta telah 10 tahun lebih kerja sama, tetapi tetap dibuka untuk anggota EAS, yang merupakan forum dialog, tentang masalah-masalah strategis melalui KTT dan tidak akan mempunyai lembaga-lembaga di bawahnya, yakni pihak Amerika Serikat dan Rusia dapat diundang pula ke dalamnya. Akhirnya di bidang budaya, malalui pendidikan dan ilmu pengetahuan, jangan sampai terabaikan karena penting menyelami nilai-nilai dan karakter bangsa, yang diperlukan apa bila kerja sama dan hubungan menjadi semakin erat. Ilmu pengetahuan dean pendidikan merupakan alat-alat dan sarana-sarana yang penting untuk masa depan yang akan melakukan kerja sama ini. Indonesia dan China sama-sama saling membutuhkan kerjasama ini.
Kesimpulan
Kerja sama bilateral Indonesia dan China merupakan suatu hubungan diplomatik yang bersifat idealis dan kompetitif. Banyaknya hal yang menguntungkan dari kerjasama ini, akan menciptakan suatu hubungan bilateral yang dinamis, bersama dengan persaingan produk Cina yang menjamur di pasaran Indonesia, membuat komditi pasar Indonesia pun, harus segera dapat menyeimbangkan pendapatan distribusi penyebaran produk China, yang telah menduduki pasaran tingkat atas pada sistem distribusian.Namun dibalik persaingan ekonomi, di kedua negara ini, yakni Indonesia dan China, kedua negara ini begitu banyak membangun diplomasi di bidang lain, selain di bidang ekonomi, Indonesia dan China terlibat dalam G-20, dan termasuk dalam ASEAN plus 3, dan Organisasi perdagangan WTO. Ini membuktikan, bahwa Indonesia dan China masih memiliki hubungan yang berkesinambungan dalam hal kerjasama politik, yang dimana hubungan ini masih sangat diperlukan untuk saling mendukung dalam upaya meningkatkan dukungan intensitas kepercayaan internasional.
Banyaknya produk China yang menjamur di pasaran Indonesia, dikarenakan, keahlian para pengusaha dari China, yang mampu membaca situasi pasar Indonesia, yang kurang mengembangkan industri kecilnya, yang dinilai berpotensi menjadi salah satu pengembangan hegemoni baru, untuk menghasilkan komoditi yang cukup bagus bagi pasaran ekspor di luar negeri. Hal ini menjadi sebuah problema tersedendiri yang telah dimanfaatkan China, untuk membidik pasaran Indonesia, yang dinilai oleh China, Indonesia masih mengalami pendapatan ekonomi masyarakatnya. Sehingga sebuah pencitraan konsumsi pasar baru, diciptakan oleh China, untuk mencari keuntungan tersendiri dari efek keadaan Indonesia yang rata-rata penduduknya memiliki income per kapita yang kecil, dalam statistik perekonomiannya.Diluar dari permasalahan persaingan bisnis ekonomi, Indonesia dam China, harus dapat saling memahami, untuk lebih jauh mengadakan pendekatan ke arah bidang yang lain. Indonesia dapat mempelajari dari sistem hukum China, mengenai pemberantasan Korupsi, yang dilaksanakan Pemerintah China dengan tegas. China telah berhasil menyelesaikan dengan tegas, mengenai ekspansi korupsi, dengan menggunakan sistem hukum yang cukup berat, bagi para pelaku Korupsi di negeri China tersebut. Indonesia harus lebih bersikap dewasa dalam mengelola lebih jauh mengenai hubungan diplomasi yang kondusif dengan China. Selain AFTA China yang masuk ke dalam regionalisme ASEAN, Indonesia harus dapat dengan cermat membidik celah, untuk menyeimbangkan sektor ekonominya, agat tidak terjadi konjungtivitas terlalu jauh dengan China.…...

Similar Documents

Free Essay

China

...Curt Palmer Concepts: Chinese companies have invested $280 million and created more than 1,200 jobs in South Carolina alone. Today some 33 American states, ports, and municipalities have sent representatives like Ling to China to lure jobs once lost to China back to the U.S.: Besides affordable land and reliable power, states and cities are offering tax credits and other incentives to woo Chinese manufacturers. Beijing, meanwhile, which has mandated that Chinese companies globalize by expanding to key markets around the world, is chipping in by offering to finance up to 30% of the initial investment costs, according to Chinese business sources. They like the strategic location of our region, the convenient access to materials coming in mostly scrap metal and pig iron and the ability to export to North and South America through the port of Corpus Christi," he says. There are other incentives. On April 9 the U.S. Commerce Department imposed import duties of up to 99% on the type of seamless pipe that is to be manufactured by Tianjin Pipe a reprisal prompted by the United Steelworkers union. The Chinese company, the world's largest maker of steel pipe, had said it could not afford to export to the U.S. if tariffs were over 20%. Now its pipe will be made in America. "It's just another reason they have to have a U.S.-based production facility," says Johnston. Even without tariffs, Tianjin had been looking to expand as are many Chinese companies once they reach about $100......

Words: 1000 - Pages: 4

Free Essay

Ikea China (Indo)

...Tugas Mata Kuliah Manajemen Pemasaran Strategik A Standardised approack to world? IKEA in China Oleh : Jordan Indratama – 1106034194 MAGISTER MANAJEMEN Fakultas Ekonomi – Universitas Indonesia 2011/2012 A Standardised approack to world? IKEA in China IKEA merupakan perusahaan penyediaan perabotan rumah tangga yang sudah membuka cabangnya sebanyak 216 cabang pada 24 negara. IKEA adalah perusahaan perabotan rumah tangga yang berasal dari Swedia sejak tahun 1943 dan perkembangan bisnisnya sudah sangat sukses di benua Eropa dan Amerika. Sejak tahun 1998 barulah IKEA melakukan ekspansi bisnisnya di Cina yang mereka anggap merupakan salah satu peluang bisnis terbesar di benua asia. Di Cina sendiri IKEA pada tahun 2006 membuka gerainya sebanyak 3 cabang dan di tahun 2012 kini sudah melakukan ekspansi berikutnya hingga 10 cabang. Perkembangan IKEA di Cina dibandingkan negara lain termasuk lambat dan juga pada tahun 2004 hingga 2005 menghasilkan pertumbuhan sales hingga 50 persen akan tetapi dengan turnover yang ada bisa dibilang belom menghasilkan profit. Namun IKEA menganggap pertumbuhan di Cina masih terbilang sukses karena telah berhasil melakukan standardisasi di setiap negara yang diekspansi. Meski IKEA menganggap pertumbuhannya di Cina sukses, IKEA tetap mempelajari standardisasi yang mereka lakukan jika ingin terus berkembang untuk menyaingi pasaran bisnis yang ada di Cina. Sesuai dengan teori yang diterapkan Dawson dan Mukoyama yang......

Words: 680 - Pages: 3

Free Essay

China

...hardship, and the Chinese economy is set to surpass the U.S.’s before the end of this decade, China looms very large on the horizon. A U.S. intelligence report stated that China's economy is likely to surpass the U.S. in less than two decades while Asia will overtake North America and Europe combined in global power by 2030. Modern China’s rise to world economic power, like its predecessor from 1100 to 1800, is based on its enormous productive capacity. China’s rush to economic development is beautifully depicted in the documentary, “Last Train Home.” Trade and investment was governed by a policy of strict noninterference in the internal relations of its trading partners. Unlike the U.S., China did not initiate brutal wars for oil; instead it signed lucrative contracts. Also, China does not fight wars in the interest of overseas Chinese, as the U.S. has done in the Middle East for Israel. China’s sustained growth in its manufacturing sector was a result of highly concentrated public investments, high profits, technological innovations, and a protected domestic market. While foreign capital profited, it was always within the framework of the Chinese state’s priorities and regulations. The regime’s dynamic export strategy led to huge trade surpluses, which eventually made China one of the world’s largest creditors, especially for U.S. debt. In order to maintain its dynamic industries, China has acquired huge inflows of raw materials, resulting in large scale overseas......

Words: 1357 - Pages: 6

Premium Essay

China

...How far can the establishment of the People’s Republic of China in 1949 be considered the key turning point in the development of China in the years 1900-2000? During the years 1900-2000 there were many turning points in China's history. We saw such things as The fall of the Qing Dynasty and imperialism February 1912, The warlord era 1915, The rise of the nationalists 1928, The formation of the PRC in 1949, The Korean and Vietnam wars 1950 and 1964, Nixon's visit in 1972 and Deng Xiaoping's Third Plenum. The key Turing point in China's history would have to be the rise of Deng Xiaoping in 1976. The reason behind this is by looking at social political, economic and international development Deng achieved greater positive development over the 4 topics and few limitations in comparison to the other turning points. The fall of imperialism and the Qing dynasty in 1912 lead to some major development in China.in china at the time there was a huge social divide. This was most notable in the rural regions where in some communities some people were consuming up to 4000 calories per day, while others were only consuming 1400. Likewise socially development in china was far behind the rest of the world. At the time China had a literacy rate of only 3.6% while Japan had a rate of 26.3% however, during the Qing dynasty economically they were prospering and catching up with the rest of Asia. This was best shown by jack Gary’s Rebellions and revolutions where he puts a more positive......

Words: 2073 - Pages: 9

Premium Essay

• Assess France's Attempts to Restore Its Colonial Rule in Indo-China Between 1945-1954

...Decolonisation in Indo-China Assessment “You can kill ten of my men for every one I kill of yours. But even at these odds, you will lose and I will win.” – Ho Chi Minh • Assess France’s attempts to restore its colonial rule in Indo-China between 1945-1954. Between 1945 and 1954 France’s attempts to restore its colonial rule in Indo-China, through both negotiation and military conflict, were largely unsuccessful. This lack of success on the part of a major European power in putting down the resistance of a (relatively) small guerilla force of rebels within its own colony is a cause for much debate. There are many opinions as to where France’s biggest short comings fell or what their biggest mistake was. Some argue it was their treatment of the Vietnamese villagers, while others believe the environment posed an insurmountable barrier for the French. Still others argue that France’s biggest short coming was its lack of adaptability or its limited understanding of Vietnamese society. It is undeniable that these factors could all be explanations to the problems France faced in its attempts to restore its colonial rule in Indo-China, however, it was the combination of all these factors (and more) within the volatile environment which was world politics at the time which resulted in France’s ultimate lack of success. One thing which was certainly a contributing factor to France’s lack of success was that the French underestimated the resistance they were faced......

Words: 1744 - Pages: 7

Premium Essay

China

...------------------------------------------------- Generations of Chinese leadership From Wikipedia, the free encyclopedia People's Republic of China | | This article is part of the series: Politics and government of China | Ideology[show] | Constitution[show] | Communist Party[show] | Legislature[show] | Executive[show] | United Front[show] | Military[show] | Judiciary[show] | Propaganda[show] | Law[show] | Other issues[show] | * Other countries  * Atlas Politics portal | * v  * t  * e | | This article needs additional citations for verification. Please help improve this article by adding citations to reliable sources. Unsourced material may be challenged and removed. (March 2013) | Generations of Chinese leadership | Simplified Chinese | 中国共产党领导集体 | Traditional Chinese | 中國共産黨領導集體 | Literal meaning | Leadership collectives of the Communist Party of China | [show]Transcriptions | | Because both the Communist Party of China and the People's Liberation Army promote according to seniority, it is possible to discern distinctgenerations of Chinese leadership.[1] In official discourse, each group of leadership is identified with a distinct extension of the ideology of the party. Historians have studied various periods in the development of the government of the People's Republic of China by reference to these "generations". Contents   [hide]  * 1 Terminology * 2 First generation * 3 Second......

Words: 2748 - Pages: 11

Premium Essay

China

...CHINA • Official name: People’s Republic of China • Capital: Beijing • Currency: Renminbi • Population: 1.35 billion • Government: Communist • Language: Mandarin HISTORY • Third largest country in the world in terms of area and population • Official Name: People’s Republic of China (Zhonghua Renmin Gongheguo) • Republic was established in 1949 • The name CHINA is probably derived from the Qin (Ch’in) dynasty (206-221 BC) which first unified the nation • Chinese used the name Zhonggua (Chung-kuo) which means middle country with their belief that China is in the middle of the world • China is divided into 23 provinces and 5 autonomous regions • China’s written history began during the Shang Dynasty • In 1921. the long civil war between the ruling nationalists or Kuomintang, led by the Chiang Kaishek, and the communists led by Mao Zedong (Mao Tse –Tung) RELEVANT FACTS • One in every five people in the world is Chinese. China’s population is estimated to reach a whopping 1,338,612,968 by July 2009. China’s population is four times that of the United States. • Red symbolizes happiness for the Chinese and is commonly used at Chinese festivals and other happy occasions such as birthdays and weddings • China’s “one child” policy has contributed to female infanticide and has created a significant gender imbalance. There are currently 32 million more boys than girls in China. In the future, tens of millions of men will be unable to find wives,......

Words: 913 - Pages: 4

Premium Essay

Indo-Pak Relations

...Question: 2. What are the key reasons for the continued hostility in Indo-Pak relations? What steps in your opinion can the two countries take to develop and sustain cordial relations in the twenty-first century? Introduction “Indo-Pak rivalry is the uncompromising struggle of two ways of life, two concepts of political organisation, two conflicting ideological foundations, two scales of values, and two spiritual attitudes that find themselves locked in deadly conflict, a conflict in which Kashmir has become both symbol and battleground, making the Indo-Pak rivalry an enduring one (Ashok 2012, 1)”. This essay will argue that the key reasons underlying the continued hostility in Indo-Pak relations are due to an antithetical idea of state identity. This essay will first outline the origins of the Indo-Pak conflict in order to give historical context to the conflict. It will be argued that the predisposing conditions for the conflict are a fundamental ideological difference in state construction which is closely linked to the second condition being the irredentist/anti-irredentist relationship between India and Pakistan. This essay will firstly consider the differences in state identity by outlining the fundamentals of Indo-Pak state construction with particular focus on why India and Pakistan feel their ideological existence is threatened by the other. Subsequently, the irredentist/anti-irredentist relationship will be outlined and considered in the context of the......

Words: 1607 - Pages: 7

Premium Essay

China

...Reasons why China is unique: 1. Population: The population of China is 1,321,290,000 and it is the most populated country in planet earth followed by India. 2. Due to this high population the People’s Republic of China is the only country that has introduced the one child policy to control the high amount of births. The policy allows many exceptions: rural families can have a second child if the first child is a girl or is disabled, and ethnic minorities are exempt. 3. China is the great economic success story of the past decade 4. Adapting to its rise will pose a challenge to the political, economic and even moral bases of the current international order. It will have an impact on the security architecture of Asia and the Far East, the so called China Effect. 5. Chinese growth is built on a unique but unsustainable model- impossible high levels of export growth largely driven by assembling half- completed imported goods, state driven capital accumulation and cheap labor with very low productivity, little technical innovation and the absence of an appropriate business culture or legal structure. 6. World’s largest exporter: China's exports rose at an annual rate of 7.9% in 2013, while imports grew 7.3%. 7. In 2012 83 million mainland Chinese spent $102 billion abroad overtaking Americans and Germans -making them the world’s biggest tourism spenders according to UN World Tourism Organization. Reasons why China is unusual: 1. Despite a phenomenal......

Words: 409 - Pages: 2

Premium Essay

Indo China Relations

...NAVAL POSTGRADUATE SCHOOL MONTEREY, CALIFORNIA THESIS THE CHINA-INDIA-PAKISTAN WATER CRISIS: PROSPECTS FOR INTERSTATE CONFLICT by James F. Brennan September 2008 Thesis Co-Advisors: Alice Lyman Miller Feroz Khan Approved for public release, distribution is unlimited THIS PAGE INTENTIONALLY LEFT BLANK REPORT DOCUMENTATION PAGE Form Approved OMB No. 0704-0188 Public reporting burden for this collection of information is estimated to average 1 hour per response, including the time for reviewing instruction, searching existing data sources, gathering and maintaining the data needed, and completing and reviewing the collection of information. Send comments regarding this burden estimate or any other aspect of this collection of information, including suggestions for reducing this burden, to Washington headquarters Services, Directorate for Information Operations and Reports, 1215 Jefferson Davis Highway, Suite 1204, Arlington, VA 22202-4302, and to the Office of Management and Budget, Paperwork Reduction Project (0704-0188) Washington DC 20503. 1. AGENCY USE ONLY (Leave blank) 2. REPORT DATE 3. REPORT TYPE AND DATES COVERED September 2008 Master’s Thesis 4. TITLE AND SUBTITLE: The China-India-Pakistan Water Crisis: Prospects for 5. FUNDING NUMBERS Interstate Conflict 6. AUTHOR(S) James F. Brennan, Lieutenant, United States Navy 7. PERFORMING ORGANIZATION NAME(S) AND ADDRESS(ES) Naval Postgraduate School Monterey, CA 93943-5000 9. SPONSORING /MONITORING......

Words: 18200 - Pages: 73

Premium Essay

China

...Lawrance, Alan. China Under Communism. London: Routledge, 1998. Internet resource. This text examines how Marxism took root, flourished and developed within the context of an ancient Chinese civilization. Through analysis of China's history and traditional culture, the author explores the nature of Chinese Communism and how it has diverged from the Soviet model. This book also provides insight into the changing perceptions Westerners have of the Chinese, and vice versa. Features include: assessment of controversial issues - The Great Leap Forward, the Cultural Revolution and Mao's record; coverage of gender and family, ethnicity, nationalism, and popular culture; and the long historical context. This evaluation details how China's political and economic policies have been inextricably linked, and assesses past failures and successes, as well as major problems for the future. White, Stephen. Communism and Its Collapse. London: Routledge, 2001. Internet resource. Ranging from the Russian revolution of 1917 to the collapse of Eastern Europe in the 1980s this study examines Communist rule. By focusing primarily on the USSR and Eastern Europe Stephen White covers the major topics and issues affecting these countries, including: * communism as a doctrine * the evolution of Communist rule * the challenges to Soviet authority in Hungary and Yugoslavia * the emerging economic fragility of the 1960s * the complex process of collapse in the 1980s.  Huibing, Zhao, and Zhu Jiangnan.......

Words: 859 - Pages: 4

Premium Essay

Indo-Pakistan Wars

...THE INDO-PAKISTAN WARS The Great Britain had ruled over India for more than a century and had much influence over the nation. During that period, the people of India struggled to gain freedom from the British rule which later became a reality on August 15, 1947. When the British government decided to leave India to function as an independent nation, there were many issues arising concerning the future of the newly independent state. The Hindu and Muslim communities of India already had an existing tension between them and so the independence from the Great Britain only stirred a sense of separatism amongst the two communities. The Muslim people wanted a separate Islamic state for themselves because they believed that Muslims would always be in the minority if they were in India because of its larger Hindu population. Mahatma Gandhi and Jawaharlal Nehru, the leaders of Indian National Congress did not want the Muslim community to form a separate state from India claiming that India was a secular state where all religion could live together under one nation. However, Muhammad Ali Jinnah, the leader of the All-India Muslim League, was able to create an Islamic state for the Muslim people of India, also known as Pakistan today, through his negotiations and persistence before independence. Following the independence of India from the British rule and the partition of Pakistan from India, there have been three major wars fought between the two countries with continued tension......

Words: 5771 - Pages: 24

Premium Essay

Indo-Trinidad Family

...Indo-Trinidad family, from observation and reading of various literature presented by host of Caribbean scholars, presents something of a conundrum for modern day analysis by students and by extension scholars. Through the naked eye it is evident that the contemporary Indo family is in no way similar to the Indo-Trinidad family of the mid-nineteenth century. As an institution the Indo-Trinidadian family has changed overtime to meet the needs of life in Trinidad and Tobago (Wood (1968), Angrosino (1976), and Brereton (1979)). Here, among the Indo- Trinidadian family, cousins are considered siblings, biological aunts and uncles are like parents and strangers are referred to as aunty and uncle. One thing however that can be agreed upon is that the present day family arrangements are more fluid in contemporary society as opposed to static as was seen in 1845. But what accounts for this type of fluidity? Does this shift reflect in individual preference and the needs and wants of life in Trinbago? Or are other forces at work? Singh (2004) had rightly pointed out that, “The twenty-first century recorded great changes of far reach importance in the family system under the influence of westernization, industrialization and modernization.” To add to this claim, creolization, douglarization and globalization are also paradigms associated with the change in contemporary Indo-Trinidad family. Characteristics of the family life style such as high divorce rates, cohabitation as a substitute...

Words: 5322 - Pages: 22

Premium Essay

Indo Pak Afghan Relations

...transported goods and armies between the Middle East and India, from West to the East and vice versa.In the present era, Afghanistan is emerged as a strategic partaker in the global market as its topographical position places it at the conjuction of three oil wealthy regions. These include Central Asia, South Asia and the Middle East. It share borders with six countries namely Pakistan, Iran, China, Turkmenistan, Uzbekistan and Tajikistan sharing its borders, Afghanistan is gaining momentum as a geopolitical and strategic nation. 1.2.2 After decades of war and conflict, it is slowly attempting to reconstruct and recover. Notable advancements have been recorded in the fields of agriculture, opium trade, infrastructure and forestation. It is home to vast, untapped resources and minerals that require neigboring nations’ technology and expertise to aid in development and exploration. 1.2 India 1.3.3 Occupying most of the subcontinental realm, India caters to a population of more than one billion. It shares borders with six countries –namely Pakistan to the west, China in the north east, Nepal / Bhutan to the north and Bangladesh to the east. 1.3.4 Its rich, diverse population is a result of its eclectic history that spans centuries. Commencing from the ancient Indus civilization to the Moghul Empire to the British Raj to today’s democracy. It has its own internal problems of serving a growing population, poverty, ameliorating the literacy......

Words: 6416 - Pages: 26

Free Essay

Indo Pakistan Conflict

...What caused the Indo-Pakistan protracted conflict / what were the consequences of the Indo-Pakistan conflict? Nuclearisation of conflict is one of the factors that sustained the Indo-pakistan conflict as it raised tensions and created deep hostility between Pakistan and India. Following Pakistan’s defeat to India in the Bangladeshi War of 1971, Pakistan was determined to establish its own nuclear weapons programme due to its strategic vulnerability and long-held animosities towards India and this was accelerated when India conducted its first nuclear detonation in 1974. Although India later declared a moratorium on nuclear testing after the first nuclear testing that lasted for 24 years, it was broken in 1998 with the rise of Hindu hardliners party, Bharatiya Janata (BJP). Casting the Pakistani-supported insurgencies in Kashmir as a crisis of national security, military expenditure was increased with the resumption of nuclear weapon testing such as Pokhran-ll and Kirana-l. Provocative statements such as India adopting a “pro-active” policy in Kashmir to crush insurgencies were also directed at Pakistan as a warning to stop its military campaign against India. In retaliation to India’s moves, Pakistan was convinced that India would launch a preemptive strike to capture Pakistan-occupied-Kashmir and hence directed its resources to nuclear testing of Chagai-l and ll despite the threat of sanctions from the international community. The prospect of a nuclear exchange was then...

Words: 1186 - Pages: 5

Chloe Levine | Play Movie | BlacKkKlansman 2018 1080p-dual-lat